Uncategorized

Oleh Ananda Rusdian Upaya membangun bangsa yang sehat tidak cukup dilakukan melalui pelayanan kesehatan yang berpusat di fasilitas kesehatan formal semata. Tetapi negara juga hadir menjangkau kelompok-kelompok yang berada dalam posisi rentan, baik karena kondisi sosial, lingkungan hidup, maupun keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan. Untuk itu, peluncuran Kick-Off Nasional Skrining Tuberkulosis (TB) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di 532 lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan di seluruh Indonesia dipandang sebagai langkah strategis sekaligus berkeadilan. Kebijakan ini menunjukkan bahwa hak atas kesehatan menjangkau seluruh warga negara, termasuk warga binaan pemasyarakatan yang selama ini kerap luput dari perhatian publik. Program ini menegaskan bahwa pemerintah mulai menempatkan kesehatan sebagai hak dasar yang harus diakses oleh semua orang tanpa kecuali. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa arahan Presiden adalah agar program kesehatan menyasar seluruh masyarakat, termasuk ratusan ribu warga binaan di lapas dan rutan. Pernyataan itu penting karena memperlihatkan perubahan cara pandang negara bahwa warga binaan bukan sekadar objek pembinaan hukum, melainkan tetap subjek pembangunan yang berhak memperoleh perlindungan kesehatan secara layak. Langkah ini menjadi semakin relevan ketika melihat tingginya ancaman tuberkulosis di lingkungan pemasyarakatan. Data yang disampaikan pemerintah menunjukkan prevalensi TB di lapas mencapai 0,54 persen, lebih tinggi daripada rata-rata nasional yang berada di kisaran 0,3 persen. Angka tersebut tidak boleh dibaca sebagai statistik semata, melainkan sebagai peringatan serius bahwa lembaga pemasyarakatan merupakan ruang berisiko tinggi bagi penularan penyakit menular. Kepadatan hunian, sirkulasi udara yang terbatas, interaksi intensif antarpenghuni, serta mobilitas petugas menciptakan situasi yang memungkinkan penyebaran TB berlangsung lebih cepat. Jika tidak ditangani dengan pendekatan luar biasa, lapas dapat menjadi titik rawan penularan yang berdampak bukan hanya bagi warga binaan, tetapi juga bagi petugas, keluarga, dan masyarakat luas ketika proses keluar-masuk penghuni berlangsung. Karena itu, keputusan menjadikan lapas sebagai salah satu sasaran utama skrining TB merupakan kebijakan yang sangat rasional. Budi mengingatkan bahwa TB tidak boleh diremehkan, tetapi juga tidak boleh ditakuti secara berlebihan karena pengobatannya tersedia dan peluang sembuh sangat besar apabila kasus ditemukan lebih awal. Di sinilah skrining rutin, termasuk melalui foto rontgen dada, menjadi instrumen yang sangat penting. Pendekatan ini tidak hanya berguna untuk menemukan kasus aktif, tetapi juga mencegah penularan berantai dan menurunkan angka kematian akibat TB. Pada saat yang sama, pemeriksaan kesehatan gratis yang dilakukan secara menyeluruh juga membuka ruang deteksi dini terhadap penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, stroke, penyakit jantung, hingga gangguan ginjal. Ini sangat penting karena kelompok berisiko sering kali tidak memiliki akses pemeriksaan rutin, sehingga penyakit baru diketahui ketika sudah memasuki stadium berat. Budi menekankan pentingnya menjaga indikator kesehatan dasar seperti tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol. Pembangunan kesehatan tidak cukup berfokus pada pengobatan, tetapi harus diarahkan pada pencegahan, perubahan perilaku, dan pengenalan faktor risiko sejak awal. Sementara itu, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto menyatakan kesiapan penuh jajarannya untuk mendukung deteksi dini dan percepatan eliminasi TB. Sikap tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan di lapas tidak dapat dibebankan hanya kepada Kementerian Kesehatan, melainkan membutuhkan dukungan serius dari institusi yang mengelola lingkungan pemasyarakatan. Koordinasi mengenai sarana dan prasarana klinik lapas dan rutan menjadi langkah penting agar skrining tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan berlanjut menjadi layanan diagnosis, pengobatan, pemantauan, dan pencegahan yang berkesinambungan. Lebih jauh, program ini harus dibaca sebagai bagian dari agenda nasional eliminasi TBC pada 2030. Wakil Menteri Kesehatan dr. Benjamin Paulus Octavianus menegaskan bahwa percepatan eliminasi TBC menjadi perhatian khusus Presiden Prabowo Subianto, mengingat Indonesia saat ini menempati posisi kedua di dunia dalam jumlah kasus TBC setelah India. Pernyataan Benjamin menegaskan bahwa Indonesia tidak bisa lagi menangani TBC dengan cara-cara biasa. Dibutuhkan langkah luar biasa, agresif, dan terukur, mulai dari penemuan kasus aktif, pengobatan tuntas, pelacakan kontak erat, hingga pemberian terapi pencegahan. Untuk itulah CKG memiliki fungsi strategis, karena pemeriksaan kesehatan berkala dapat menjadi pintu masuk untuk mendeteksi berbagai indikasi penyakit, sebelum berkembang menjadi beban kesehatan yang lebih berat. Peluncuran skrining TBC dan CKG…

Uncategorized

Oleh : Abdul Razak Transformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tengah memasuki babak baru melalui langkah strategis yang dijalankan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Tidak sekadar mengejar efisiensi bisnis, agenda restrukturisasi yang sedang berlangsung diarahkan untuk membangun tata kelola perusahaan negara yang semakin profesional, transparan, dan akuntabel. Keberhasilan transformasi tersebut pada akhirnya tidak hanya diukur dari peningkatan laba, melainkan juga dari tumbuhnya kepercayaan publik terhadap pengelolaan aset negara. Kepercayaan merupakan modal utama bagi setiap institusi yang mengelola kekayaan negara dalam jumlah besar. Oleh karena itu, langkah pemerintah melibatkan berbagai lembaga pengawas dalam proses streamlining atau penyehatan BUMN menjadi sinyal kuat bahwa reformasi dilakukan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian serta kepatuhan terhadap hukum. Pemerintah membentuk Tim Pengawalan Streamlining BUMN yang melibatkan Kejaksaan Agung, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), serta Kementerian Hukum. Kolaborasi lintas lembaga tersebut menunjukkan bahwa restrukturisasi BUMN tidak hanya berorientasi pada efisiensi korporasi, tetapi juga memastikan seluruh proses berlangsung secara transparan dan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen, Reda Manthovani, menegaskan bahwa keterlibatan berbagai institusi negara merupakan bentuk komitmen pemerintah untuk menghasilkan BUMN yang sehat, kuat, dan bersih. Pengawasan yang dilakukan sejak awal proses diharapkan mampu meminimalkan potensi penyimpangan sekaligus memberikan kepastian hukum bagi setiap kebijakan yang diambil. Langkah tersebut menjadi penting mengingat BUMN merupakan salah satu penggerak utama perekonomian nasional. Perusahaan-perusahaan negara mengelola sektor-sektor strategis mulai dari energi, pangan, telekomunikasi, perbankan hingga infrastruktur. Dengan demikian, setiap pembenahan tata kelola akan memberikan dampak yang luas terhadap daya saing ekonomi Indonesia. Agenda streamlining sendiri merupakan bagian dari transformasi besar BUMN sebagaimana arahan Presiden Prabowo Subianto. Melalui proses tersebut, jumlah perusahaan BUMN yang sebelumnya mencapai sekitar 1.077 entitas akan disederhanakan menjadi sekitar 200 hingga 300 perusahaan. Perampingan tersebut ditargetkan selesai pada tahun 2026. Restrukturisasi dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari likuidasi perusahaan yang tidak lagi produktif, divestasi, konsolidasi, hingga restrukturisasi bisnis. Data menunjukkan bahwa hingga April 2026, sebanyak 167 BUMN telah dilikuidasi dalam kurun satu tahun terakhir. Kebijakan tersebut bukan sekadar mengurangi jumlah perusahaan, melainkan bertujuan menghilangkan tumpang tindih fungsi, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat fokus bisnis setiap perusahaan negara. Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil yang positif. Sejumlah BUMN yang berada di bawah pengelolaan Danantara berhasil mencatatkan peningkatan kinerja keuangan sepanjang periode April 2025 hingga April 2026. Pertamina membukukan kenaikan laba sekitar 80 persen menjadi Rp24,9 triliun, sementara Pupuk Indonesia mencatat pertumbuhan laba lebih dari 200 persen. Di sisi lain, Krakatau Steel, Kimia Farma, dan Semen Indonesia berhasil membalikkan kondisi dari sebelumnya merugi menjadi mencetak keuntungan. Capaian tersebut menjadi indikator bahwa langkah restrukturisasi mulai memberikan dampak terhadap kinerja perusahaan. Namun demikian, peningkatan laba tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan transformasi. Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan sebagian peningkatan kinerja mencerminkan keberhasilan restrukturisasi yang bersifat fundamental, seperti yang terjadi pada Krakatau Steel melalui penataan utang, efisiensi operasional, dan pembaruan portofolio bisnis. Selain itu, pada sektor berbasis komoditas, peningkatan laba juga masih dipengaruhi oleh momentum kenaikan harga komoditas global. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa reformasi BUMN perlu terus diarahkan pada perubahan yang lebih mendasar. Transformasi sejati bukan hanya menghasilkan laporan keuangan yang lebih baik dalam jangka pendek, melainkan membangun perusahaan yang memiliki daya tahan tinggi menghadapi perubahan kondisi ekonomi global. Dalam konteks inilah penguatan tata kelola perusahaan menjadi faktor yang sangat menentukan. Transparansi pengelolaan, independensi direksi, akuntabilitas pengambilan keputusan, serta sistem pengawasan yang kuat merupakan fondasi agar reformasi tidak berhenti pada pencapaian finansial semata.…