Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda Menyatukan Akses dan Mutu Pendidikan
Oleh: Rizky Adi Perman
Perluasan akses pendidikan yang terus dilakukan pemerintah menjadi langkah strategis untuk memastikan semakin banyak anak Indonesia memperoleh kesempatan belajar yang berkualitas, mengembangkan potensi, serta meraih prestasi sesuai kemampuannya. Dalam konteks tersebut, kehadiran Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda memperkuat ekosistem pendidikan nasional melalui perpaduan antara pemerataan kesempatan belajar dan pengembangan talenta unggul. Kedua program tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan layanan pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan berorientasi pada pembentukan generasi Indonesia yang berdaya saing serta siap berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Komitmen tersebut semakin terlihat melalui arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperluas layanan pendidikan gratis mulai dari taman kanak-kanak, pendidikan dasar dan menengah, hingga perguruan tinggi negeri. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa arahan tersebut menempatkan perluasan akses pendidikan sebagai perhatian penting pemerintah, dengan optimalisasi instrumen pendanaan yang telah tersedia seperti Bantuan Operasional Sekolah dan Program Indonesia Pintar.
Sekolah Rakyat menjadi bagian penting dari agenda tersebut karena secara khusus diarahkan untuk menjangkau anak-anak dari keluarga kurang mampu. Program ini bukan sekadar menyediakan ruang belajar, melainkan menghadirkan ekosistem pendidikan yang memungkinkan peserta didik memperoleh dukungan lebih menyeluruh. Fasilitas pendidikan, kebutuhan dasar, hingga lingkungan belajar yang terintegrasi menjadi bagian dari upaya agar keterbatasan ekonomi keluarga tidak menjadi penghalang bagi anak untuk memperoleh pendidikan.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Sosial Devi Deliani menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat dirancang untuk melengkapi keberadaan sekolah negeri, bukan menggantikan ataupun mengambil alih alokasi anggarannya. Pemerintah menargetkan lebih dari 150.000 siswa dapat terlayani melalui program tersebut pada 2027, dengan visi jangka panjang agar setiap kabupaten dan kota memiliki fasilitas permanen berkapasitas besar.
Kehadiran Sekolah Rakyat juga memperlihatkan bahwa kebijakan pendidikan dapat ditempatkan sebagai instrumen untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Pernyataan Anggota DPR Bambang Haryo Soekartono mengenai potensi besar siswa Sekolah Rakyat memperlihatkan bahwa anak-anak dari keluarga kurang mampu memiliki kemampuan dan semangat belajar yang dapat berkembang ketika memperoleh dukungan yang memadai. Pengalaman siswa yang sebelumnya terancam putus sekolah karena keterbatasan ekonomi juga menunjukkan arti penting intervensi negara dalam memastikan keberlanjutan pendidikan.
Dengan demikian, Sekolah Rakyat tidak semestinya dipahami hanya sebagai program bantuan bagi kelompok masyarakat tertentu. Lebih jauh, program tersebut merupakan investasi sosial jangka panjang. Setiap anak yang memperoleh kesempatan belajar berarti semakin besar pula peluang Indonesia menyiapkan sumber daya manusia yang produktif, mandiri, dan mampu berkontribusi terhadap pembangunan. Presiden Prabowo sendiri menempatkan pendidikan sebagai instrumen penting untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat serta membangun sumber daya manusia secara menyeluruh.
Pada sisi lain, pemerataan akses perlu berjalan beriringan dengan penciptaan pusat-pusat keunggulan akademik. Di sinilah Sekolah Garuda memiliki posisi strategis. Pemerintah memperkenalkan Sekolah Garuda melalui dua skema, yakni Sekolah Garuda Baru dan Sekolah Garuda Transformasi. Program tersebut dirancang untuk memperluas akses terhadap pendidikan berkualitas sekaligus memperkuat pengembangan talenta berprestasi. Pemerintah menargetkan pembangunan 20 Sekolah Garuda Baru serta pengembangan 80 Sekolah Garuda Transformasi hingga 2029.
Sekolah Garuda memiliki orientasi yang berbeda tetapi saling melengkapi dengan Sekolah Rakyat. Jika Sekolah Rakyat memberikan perhatian kuat pada perluasan akses bagi kelompok masyarakat kurang mampu, Sekolah Garuda diarahkan untuk memperkuat ekosistem pendidikan unggulan dan pengembangan talenta. Pada 2026, pemerintah juga menargetkan transformasi sejumlah sekolah unggulan menjadi bagian dari ekosistem Sekolah Garuda.
Presiden Prabowo menjelaskan bahwa SMA Unggul Garuda diarahkan menggunakan kurikulum International Baccalaureate sebagai salah satu pendekatan untuk mempersiapkan siswa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi terbaik dunia. Arah ini menunjukkan bahwa pembangunan pendidikan nasional tidak hanya berbicara mengenai pemerataan, tetapi juga tentang kemampuan Indonesia menghasilkan talenta yang mampu berkompetisi dalam lingkungan global.
Dua pendekatan tersebut pada akhirnya dapat ditempatkan dalam satu kerangka besar. Sekolah Rakyat memperluas pintu masuk agar anak-anak dari keluarga rentan tidak tertinggal, sementara Sekolah Garuda memperkuat jalur pengembangan talenta agar anak-anak dengan potensi akademik tinggi memperoleh ruang untuk berkembang secara optimal. Keduanya bukan dua agenda yang saling berhadapan, melainkan bagian dari ekosistem pendidikan yang memiliki fungsi berbeda.
Pada akhirnya, pendidikan gratis dan sekolah dengan fasilitas yang baik harus dipahami sebagai investasi strategis bangsa. Sekolah Rakyat memberikan harapan bahwa kondisi ekonomi keluarga tidak harus menentukan masa depan seorang anak. Sekolah Garuda memberikan ruang agar talenta terbaik dapat berkembang dan membawa kemampuan Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi. Keduanya mampu dijalankan secara konsisten, transparan, dan berorientasi pada kualitas, sehingga pembangunan pendidikan dapat bergerak dari sekadar memperluas kesempatan menuju pembentukan generasi unggul yang memiliki kemampuan, karakter, dan daya saing. Inilah fondasi penting untuk memastikan bonus demografi tidak sekadar menjadi angka, melainkan menjadi kekuatan nyata menuju Indonesia Emas 2045.
*Penulis merupakan Peneliti Pendidikan dan Kebijakan Publik

