Hilirisasi Menguat, Dua Tahun Prabowo-Gibran Dorong Investasi Bernilai Tambah
Halmahera Tengah, – Hilirisasi industri semakin berkontribusi terhadap investasi nasional selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Pada semester pertama 2026, investasi Indonesia mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, serta menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Perkasa Roeslani, menyampaikan capaian tersebut dalam kegiatan pembangunan dan komersialisasi 11 ekosistem hilirisasi nikel serta ekspor perdana baterai kendaraan listrik di Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara.
“Investasi Indonesia pada semester pertama 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, meningkat 7,2 persen, dan menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja,” ujar Rosan.
Ia menjelaskan bahwa kontribusi hilirisasi terhadap investasi nasional meningkat dari sekitar 25 persen menjadi 30 persen dalam dua tahun terakhir. Sektor industri logam dasar dan barang logam bukan mesin menjadi penyumbang utama, disusul jasa lainnya, pertambangan, transportasi, pergudangan, telekomunikasi, serta perumahan dan kawasan industri.
Maluku Utara menjadi salah satu contoh perkembangan industri tersebut. Produk ekspornya semakin beragam, mencakup feronikel, nickel matte, Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), nickel sulfate, dan cobalt. Perkembangan ini menunjukkan pergeseran dari ekspor bahan mentah menuju produk olahan bernilai tambah.
Sementara itu, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menilai nikel dan tembaga berpotensi mendukung industri kecerdasan artifisial (AI). Mineral tersebut diperlukan untuk baterai, peralatan listrik, jaringan transmisi, dan infrastruktur pusat data.
“Indonesia harus memastikan penyediaan bahan baku untuk transisi energi dan digital menghasilkan rantai nilai yang berkelanjutan bagi semua pihak,” kata Nezar.
Menurutnya, Indonesia memiliki posisi strategis karena menyumbang sekitar 62 persen produksi tambang nikel dunia. Namun, hilirisasi harus disertai perlindungan lingkungan, pengelolaan limbah, penggunaan energi rendah karbon, dan perhatian terhadap masyarakat sekitar.
“Hilirisasi tidak cukup hanya mengolah mineral di dekat tambang, tetapi juga harus memperhatikan lingkungan dan dampaknya terhadap masyarakat,” tegasnya.
Nezar menambahkan, pengembangan AI membutuhkan pasokan listrik, jaringan digital, infrastruktur memadai, dan tenaga ahli. Karena itu, hilirisasi perlu diarahkan untuk menciptakan lapangan kerja berkualitas, memperkuat kemampuan teknologi nasional, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. (*)
