MBG Prasmanan Tekan Sisa Makanan, SOP Pastikan Penyajian Terkendali

Jakarta — Pemerintah mendorong peningkatan kualitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui sistem penyajian prasmanan untuk menekan sisa makanan, menjaga kualitas hidangan, dan memperkuat keamanan pangan di sekolah.

Badan Gizi Nasional (BGN) telah menguji coba model prasmanan di lebih dari 60 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Makanan disajikan dalam kondisi hangat agar kualitasnya terjaga hingga dikonsumsi siswa.

“Kita harapkan satu, makanannya lebih enak karena hangat-hangat. Yang kedua, tentu saja lebih fresh karena tidak ada delay waktu. Sehingga mengurangi risiko kerusakan makanan yang kemudian menimbulkan gangguan kesehatan,” ungkap Kepala BGN Sudaryono.

Sistem prasmanan memungkinkan siswa mengambil makanan sesuai kebutuhan. BGN juga menerima laporan awal mengenai berkurangnya sisa makanan.

“Sejauh ini tadi saya dapat laporan, tingkat kehabisan makanannya bagus. Jadi lebih fresh, kemudian ada yang mungkin mau nambah, masih ada sisa bisa nambah. Dan waste-nya lebih sedikit karena prasmanan,” kata Sudaryono.

Sementara itu, Juru Bicara BGN Tysa Novenny menjelaskan, penerapan sistem prasmanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai memiliki sejumlah keunggulan, terutama dalam menjaga kualitas makanan dan meminimalkan risiko kontaminasi.

“Dari hasil evaluasi awal, sistem prasmanan memiliki sejumlah manfaat. Makanan bisa lebih cepat sampai kepada anak-anak, suhunya lebih terjaga, dan proses pemorsian dapat dikurangi sehingga potensi kontaminasi bisa diminimalkan. Namun, semuanya tetap harus dilaksanakan dengan prosedur dan standar operasional yang jelas,” kata Tysa.

Penerapan SOP mencakup kebersihan peralatan, pengendalian suhu dan waktu, perlindungan makanan dari kontaminasi, serta pengawasan petugas selama penyajian. Langkah tersebut penting untuk memastikan makanan tetap aman dan memenuhi standar gizi.

Evaluasi sisa pangan juga dilakukan secara berkala. Data makanan yang tidak habis dapat menjadi dasar penyesuaian porsi dan menu tanpa mengurangi kecukupan gizi penerima manfaat. Pengelolaan sisa pangan dan limbah operasional turut mendukung pelaksanaan MBG yang higienis dan berkelanjutan.

Ke depan, evaluasi akan mencakup jumlah sisa makanan, kualitas hidangan, kepatuhan terhadap SOP, dan keamanan pangan. Dengan pengawasan konsisten serta evaluasi berbasis data, sistem prasmanan diyakini akan meningkatkan efektivitas program MBG sekaligus memastikan pemenuhan gizi dan perlindungan kesehatan siswa. (*)