Ekonomi Indonesia Tetap Kuat di Tengah Badai Geopolitik
Ekonomi Indonesia Tetap Kuat di Tengah Badai Geopolitik
Oleh: Asep Faturahman
Perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik yang terus berkembang. Berbagai indikator makroekonomi memperlihatkan bahwa fondasi ekonomi nasional tetap kokoh meskipun dunia menghadapi tekanan dari dinamika politik internasional, fluktuasi harga energi, serta perlambatan ekonomi di sejumlah negara besar. Stabilitas fiskal, pertumbuhan ekonomi yang terjaga, serta kebijakan ekonomi yang dikelola secara hati-hati menjadi faktor utama yang membuat Indonesia mampu bertahan di tengah badai geopolitik global.
Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung mengatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang solid. Pemerintah menjalankan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara prudent dan fleksibel sehingga mampu merespons berbagai risiko eksternal yang muncul akibat ketegangan geopolitik dunia. Pendekatan kebijakan fiskal yang berhati-hati tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Ketahanan ekonomi Indonesia juga tercermin dari kinerja pertumbuhan yang tetap positif. Pada tahun 2025, pertumbuhan ekonomi nasional tercatat sekitar 5,11 persen, dengan akselerasi yang lebih tinggi pada triwulan IV yang mencapai sekitar 5,39 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi domestik tetap bergerak dinamis meskipun lingkungan global berada dalam kondisi penuh ketidakpastian. Konsumsi masyarakat, investasi, serta berbagai aktivitas ekonomi produktif terus menjadi penggerak utama pertumbuhan.
Selain pertumbuhan ekonomi yang stabil, tingkat inflasi Indonesia juga tetap berada dalam rentang yang terkendali. Stabilitas harga tersebut menjadi bukti keberhasilan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung keberlanjutan aktivitas ekonomi. Kondisi ini semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan stabilitas ekonomi yang relatif baik di tengah tekanan global.
Sementara itu, dalam ketegangan geopolitik dunia yang berpotensi memicu lonjakan harga energi, pemerintah juga telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif. Konflik yang terjadi di beberapa kawasan berpotensi mendorong kenaikan harga minyak internasional. Namun dengan manajemen fiskal yang hati-hati, Indonesia dinilai masih mampu menghadapi potensi kenaikan harga minyak hingga kisaran 80 hingga 90 dolar Amerika Serikat per barel tanpa mengganggu stabilitas anggaran negara.
Salah satu peluang strategis yang dimiliki Indonesia adalah momentum bonus demografi yang diperkirakan berlangsung hingga sekitar tahun 2035 hingga 2040. Pada periode tersebut, jumlah penduduk usia produktif berada pada puncaknya sehingga berpotensi meningkatkan produktivitas nasional. Momentum ini diharapkan dapat mendorong penciptaan lapangan kerja yang lebih luas serta memperkuat basis pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Dalam kerangka tersebut, pemerintah bahkan menargetkan pertumbuhan ekonomi yang lebih ambisius dalam jangka panjang, dengan potensi mencapai kisaran 8 persen. Target tersebut dinilai penting untuk mendorong Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah dan mempercepat transformasi menuju negara maju.
Upaya memperkuat ketahanan ekonomi nasional juga tercermin dalam perencanaan APBN 2026. Pemerintah merancang anggaran negara yang berfokus pada peningkatan produktivitas nasional, pembangunan jangka panjang, serta perlindungan sosial bagi masyarakat. Total belanja negara diperkirakan mencapai sekitar Rp3.847 triliun, dengan penerimaan negara sekitar Rp3.153 triliun. Dengan struktur tersebut, defisit anggaran tetap dijaga pada kisaran 2,68 persen dari PDB, yang mencerminkan komitmen pemerintah terhadap pengelolaan fiskal yang sehat.
Optimisme terhadap perekonomian Indonesia juga terlihat pada proyeksi pertumbuhan ekonomi pada awal tahun 2026. Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama dapat melampaui capaian pada akhir tahun sebelumnya. Aktivitas ekonomi yang meningkat selama Ramadan serta pencairan tunjangan hari raya diperkirakan memberikan dorongan signifikan terhadap konsumsi domestik. Dengan momentum tersebut, baseline pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada pada kisaran 5,5 persen.
Kepercayaan internasional terhadap ketahanan ekonomi Indonesia juga tetap terjaga. Berbagai lembaga pemeringkat global masih mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level investment grade. Penilaian tersebut menjadi indikator bahwa pasar internasional masih memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap stabilitas ekonomi serta kredibilitas kebijakan fiskal Indonesia.
Pandangan yang sama juga disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, yang menilai bahwa fundamental ekonomi nasional tetap kuat meskipun tekanan global meningkat. Stabilitas ekonomi terlihat dari pertumbuhan yang tetap solid, inflasi yang terjaga dalam kisaran target, serta stabilitas nilai tukar rupiah yang terus diperkuat melalui berbagai instrumen kebijakan moneter.
Bank Indonesia juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 berada pada kisaran 4,9 hingga 5,7 persen. Proyeksi tersebut didukung oleh permintaan domestik yang tetap kuat serta stabilitas sektor eksternal yang terjaga. Cadangan devisa Indonesia yang mencapai sekitar 154,6 miliar dolar Amerika Serikat pada akhir Januari 2026 juga menjadi penopang penting bagi stabilitas ekonomi nasional.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan bahwa pemerintah akan terus memanfaatkan berbagai masukan dari lembaga pemeringkat internasional sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional. Pemerintah juga terus mendorong optimalisasi sistem perpajakan melalui implementasi Coretax guna meningkatkan penerimaan negara secara lebih efektif dan transparan.
Dengan berbagai indikator positif tersebut, Indonesia menunjukkan ketahanan ekonomi yang kuat di tengah badai geopolitik global. Stabilitas fiskal yang terjaga, kebijakan moneter yang adaptif, serta dukungan sektor domestik yang kuat menjadi fondasi penting bagi Indonesia untuk terus menjaga momentum pertumbuhan sekaligus melanjutkan transformasi ekonomi menuju negara maju.
)* Penulis adalah Mahasiswa Bandung tinggal di Garut
