Hilirisasi Industri dan Peran Danantara Meningkatkan Daya Saing
Hilirisasi Industri dan Peran Danantara Meningkatkan Daya Saing
Oleh : Seva Amalia Asti
Hilirisasi industri telah menjadi strategi penting dalam memperkuat struktur ekonomi nasional. Selama bertahun-tahun, Indonesia dikenal sebagai negara kaya sumber daya alam, tetapi nilai tambah yang dinikmati di dalam negeri masih terbatas karena banyak komoditas diekspor dalam bentuk mentah. Melalui kebijakan hilirisasi, sumber daya tersebut diolah lebih lanjut di dalam negeri sehingga menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan penerimaan negara. Langkah ini tidak hanya berdimensi ekonomi, tetapi juga strategis dalam memperkuat kemandirian dan daya saing bangsa di tengah kompetisi global.
Hilirisasi memungkinkan Indonesia bergerak dari sekadar eksportir bahan mentah menjadi produsen produk industri yang memiliki daya saing global. Dalam sektor mineral misalnya, pengolahan nikel, bauksit, dan komoditas lainnya telah mendorong tumbuhnya industri turunan seperti baterai kendaraan listrik dan berbagai produk manufaktur berbasis logam. Proses ini menciptakan efek berganda yang signifikan, mulai dari peningkatan investasi, transfer teknologi, hingga penguatan struktur industri dalam negeri. Dengan rantai nilai yang semakin lengkap, posisi Indonesia dalam peta industri dunia menjadi semakin diperhitungkan.
Peran Danantara menjadi relevan sebagai instrumen strategis untuk mempercepat agenda hilirisasi. Sebagai entitas yang dirancang untuk mengoptimalkan pengelolaan aset dan investasi nasional, Danantara diharapkan mampu menjadi katalis dalam pembiayaan proyek-proyek hilirisasi berskala besar. Dukungan pembiayaan jangka panjang yang terstruktur dan terukur sangat dibutuhkan, mengingat proyek hilirisasi umumnya memerlukan investasi besar dan waktu pengembalian yang tidak singkat. Dengan manajemen yang profesional dan tata kelola yang baik, Danantara dapat menjadi penggerak utama transformasi industri nasional.
Selain aspek pembiayaan, Danantara juga akan memperkuat koordinasi antar sektor dan antar BUMN dalam rantai hilirisasi. Selama ini, salah satu tantangan dalam pengembangan industri adalah fragmentasi kebijakan dan kurangnya integrasi antar pelaku usaha. Melalui pendekatan yang terpusat dan terarah, sinergi antar perusahaan negara dan mitra swasta dapat dibangun secara lebih efektif. Integrasi ini penting agar setiap tahapan produksi, mulai dari hulu hingga hilir, berjalan selaras dan efisien, sehingga mampu menekan biaya produksi dan meningkatkan daya saing produk nasional.
Hilirisasi yang didukung oleh Danantara juga dapat mendorong pemerataan ekonomi antar wilayah. Proyek pengolahan dan manufaktur umumnya dibangun di dekat sumber bahan baku, yang banyak tersebar di luar Pulau Jawa. Dengan demikian, pembangunan kawasan industri di berbagai daerah dapat menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru. Infrastruktur pendukung seperti pelabuhan, jalan, energi, dan kawasan industri pun akan ikut berkembang. Dampaknya, kesempatan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat daerah dapat terwujud secara lebih nyata.
Di sisi lain, penguatan daya saing melalui hilirisasi menuntut peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penguasaan teknologi. Investasi pada mesin dan fasilitas produksi harus diiringi dengan pengembangan kompetensi tenaga kerja lokal. Kolaborasi antara industri, lembaga pendidikan, dan pemerintah menjadi elemen penting agar transfer teknologi berjalan optimal. Dengan SDM yang terampil dan adaptif, Indonesia tidak hanya menjadi lokasi produksi, tetapi juga pusat inovasi yang mampu menghasilkan produk berstandar global.
Keberhasilan hilirisasi dan optimalisasi peran Danantara harus ditopang oleh tata kelola yang transparan dan akuntabel. Kepercayaan investor, baik domestik maupun internasional, sangat dipengaruhi oleh konsistensi kebijakan dan kepastian hukum. Oleh karena itu, pengawasan yang kuat, manajemen risiko yang matang, serta komitmen terhadap prinsip keberlanjutan menjadi syarat mutlak. Hilirisasi tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan jangka pendek, tetapi juga harus memperhatikan aspek lingkungan dan sosial agar manfaatnya berkelanjutan.
Peletakan batu pertama (groundbreaking) enam dari 18 proyek hilirisasi Danantara akan menciptakan nilai tambah dan meningkatkan daya saing industri nasional. Hilirisasi atau downstreaming menjadi kunci transformasi ekonomi Indonesia karena mampu mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam melalui proses pengolahan di dalam negeri.
Pada akhirnya, hilirisasi industri dan peran Danantara merupakan bagian dari strategi besar transformasi ekonomi Indonesia. Dengan mengolah sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah tinggi, memperkuat integrasi industri, serta memastikan dukungan pembiayaan yang solid, daya saing nasional dapat meningkat secara signifikan. Jika dijalankan secara konsisten dan terarah, langkah ini akan membawa Indonesia naik kelas dalam rantai nilai global, sekaligus menghadirkan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkeadilan bagi seluruh rakyat.
)* Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia
