Pemerintah Hadirkan Listrik Desa Papua sebagai Wujud Ketahanan Energi
Pemerintah Hadirkan Listrik Desa Papua sebagai Wujud Ketahanan Energi
Oleh : Andhika Rahcma
Percepatan pembangunan listrik di pedesaan Papua menjadi bukti nyata kehadiran negara dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama PT PLN (Persero), pemerintah menggencarkan Program Listrik Desa (Lisdes) untuk membuka akses listrik di wilayah terpencil yang lama tertinggal. Upaya ini bukan sekadar menghadirkan penerangan, tetapi juga mendorong transformasi sosial ekonomi, mengurangi kesenjangan pembangunan, dan memperkuat ketahanan energi yang inklusif dan berkelanjutan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah berkomitmen mewujudkan keadilan energi yakni menghadirkan listrik bagi semua tanpa terkecuali, seperti program listrik desa (lisdes) dan bantuan pasang baru listrik (BPBL) hingga pelosok Tanah Air.
Pemerintah menempatkan Papua sebagai salah satu kawasan prioritas dalam pengembangan energi berkelanjutan nasional. Presiden Prabowo Subianto menegaskan arah kebijakan nasional dalam mewujudkan kemandirian energi dengan mengoptimalkan potensi sumber energi baru terbarukan di wilayah ini, serta mempercepat pemerataan akses listrik sampai ke desa-desa terpencil. Papua tidak lagi dipandang sebagai wilayah pinggiran yang luput dari perhatian pembangunan energi, tetapi sebagai bagian integratif dari strategi ketahanan energi nasional yang memanfaatkan potensi energi lokal seperti tenaga surya dan air.
Program Lisdes yang dicanangkan pemerintah bertujuan menjamin seluruh desa di Indonesia, termasuk yang terpencil dan terisolir, menikmati akses listrik yang cukup paling lambat tahun 2030. Di Papua sendiri, upaya ini telah menunjukkan hasil nyata dengan pemerintah memperluas jaringan listrik, membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) serta pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) di sejumlah desa yang sebelumnya tidak teraliri listrik PLN. Program ini berhasil menghadirkan akses listrik di berbagai kampung di Papua seperti di Kabupaten Kepulauan Yapen, SUPiori, dan Biak Numfor, dengan ribuan rumah warga kini sudah terhubung listrik.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menegaskan komitmen perseroan untuk menjadikan Papua sebagai tonggak keadilan energi yang nyata. Tak hanya itu, PLN telah menyiapkan inovasi PLTS atap/SuperSUN sebagai sumber energi listrik yang akan disalurkan ke 693 sekolah di Papua untuk mendukung peningkatan proses belajar-mengajar yang modern dan inklusif.
Pemerintah juga memprioritaskan penggunaan energi terbarukan yang ramah lingkungan untuk memastikan ketahanan energi jangka panjang. Di distrik-distrik yang tersebar di alam Papua, PLTS dan PLTMH digunakan untuk memasok listrik secara lokal, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang mahal dan mencemari lingkungan. Selain itu, PLN juga telah memperkenalkan sistem SuperSUN, sebuah inovasi pembangkit listrik tenaga surya mikro yang dilengkapi dengan baterai, sehingga mampu menyediakan listrik secara andal meskipun jaringan utama belum terjangkau.
Salah satu contoh konkret adalah keberhasilan PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo yang menghadirkan listrik bersih melalui PLTMH dan PLTS di Kampung Ausem, Papua. Ini bukan hanya sekadar menyediakan lampu di rumah warga di malam hari, tetapi juga membuka peluang baru bagi kegiatan ekonomi produktif yang selama ini terkendala karena minimnya pasokan energi. Hadirnya listrik 24 jam di kampung tersebut menjadi simbol kemajuan yang menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.
Percepatan elektrifikasi desa di Papua merupakan bagian dari tujuan besar pemerintah menjadikan rasio elektrifikasi nasional mendekati 100 persen. Menurut data terbaru, rasio elektrifikasi nasional telah mencapai hampir 99,83 persen, menunjukkan bahwa hampir seluruh warga Indonesia kini sudah menikmati akses listrik, termasuk di kawasan 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) seperti Papua. Ini merupakan hasil dari sinergi berbagai program, termasuk penyediaan jaringan listrik, PLTS atap, serta sistem microgrid di pulau-pulau kecil yang belum tersambung jaringan listrik utama.
Selain itu, pemerintah juga menggabungkan upaya memperluas akses listrik dengan pembinaan sumber daya manusia (SDM) di hilir untuk mendukung pemanfaatan energi yang telah tersedia tersebut. Penguatan SDM di Papua menjadi fokus penting agar masyarakat lokal juga dapat terlibat aktif dalam pengelolaan dan pemeliharaan infrastruktur energi, serta dapat menciptakan peluang ekonomi baru berbasis energi. Inisiatif ini tidak hanya meningkatkan akses listrik, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber daya energi secara mandiri.
Di sisi lain, pemerintah juga menggencarkan program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) sebagai bagian dari upaya memperluas akses listrik desa. Program ini turut membantu keluarga miskin di berbagai daerah, termasuk Papua, untuk mendapatkan sambungan listrik baru tanpa biaya pemasangan, sehingga membuka pintu peluang mereka untuk peningkatan kualitas hidup yang lebih baik.
Upaya pemerintah dalam menghadirkan listrik sampai ke desa-desa di Papua sejatinya juga menjadi bagian dari strategi besar menuju ketahanan energi nasional yang berkelanjutan. Ketahanan energi bukan hanya soal ketersediaan pasokan listrik yang cukup, tetapi juga bagaimana listrik tersebut dihasilkan secara efisien, ramah lingkungan, serta dapat diakses dan dikelola oleh seluruh masyarakat tanpa kecuali. Keberadaan listrik membawa perubahan besar dalam aspek sosial dan ekonomi, karena listrik merupakan energi dasar yang mampu mendorong pertumbuhan UMKM, meningkatkan layanan kesehatan, pendidikan, serta memperluas akses informasi dan komunikasi yang selama ini terbatas di wilayah terpencil. Di masa depan, misi ini dilanjutkan sebagai investasi besar dalam pengembangan energi terbarukan yang lebih luas di desa-desa di seluruh Indonesia melalui berbagai teknologi energi bersih.
)*Pengamat Publik