Cadangan Beras Terjaga, El Nino Diantisipasi Sejak Dini

JAKARTA – Pemerintah memastikan cadangan beras nasional tetap terjaga di tengah ancaman fenomena El Nino yang berpotensi mengganggu produksi pertanian. Penguatan stok beras pemerintah menjadi modal penting untuk menjaga ketersediaan pangan, menstabilkan harga, serta memenuhi kebutuhan masyarakat hingga memasuki musim panen berikutnya pada 2027.

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengatakan realisasi pengadaan beras untuk penugasan pelayanan publik (Public Service Obligation/PSO) telah mencapai 4.115.014 ton atau 102,88 persen dari target pemerintah sebesar 4 juta ton. Capaian tersebut memperkuat kesiapan cadangan pangan nasional dalam menghadapi potensi gangguan produksi akibat perubahan iklim.

Rizal menjelaskan, stok beras Bulog sempat mencapai puncak 5,4 juta ton pada pertengahan September 2026. Sementara itu, stok yang tersedia saat ini sekitar 4,5 juta ton. Menurutnya, cadangan tersebut dapat dimanfaatkan untuk intervensi pasar dan penyaluran bantuan kepada masyarakat guna menjaga stabilitas pasokan serta keterjangkauan harga beras.

Ia memperkirakan ketersediaan beras nasional mampu memenuhi kebutuhan hingga Juli 2027 dengan memperhitungkan stok pemerintah, persediaan di masyarakat, serta hasil produksi pertanian. Meski proyeksi produksi beras menghadapi penyesuaian akibat El Nino, panen berikutnya pada Maret atau April 2027 diharapkan kembali memperkuat pasokan nasional.

Dukungan terhadap penguatan cadangan beras juga disampaikan anggota Komisi IV DPR RI, Sumail Abdullah. Ia menilai stok beras pemerintah yang mencapai 4,6 juta ton pada September 2026 merupakan modal penting menghadapi ancaman El Nino ekstrem. Namun, ia mengingatkan bahwa ketahanan pangan tidak cukup hanya mengandalkan persediaan di gudang.

“Ketahanan pangan bukan hanya soal berapa banyak beras yang tersimpan. Kita juga harus memastikan produksi petani tetap berjalan, air tersedia, distribusi tidak terganggu, dan masyarakat tetap mampu membeli beras dengan harga yang wajar,” kata Sumail.

Ia mendorong pemerintah memperkuat antisipasi sejak dini melalui pemetaan wilayah rawan kekeringan, pengamanan sumber air, perlindungan produksi petani, serta kelancaran distribusi pangan. Langkah tersebut diperlukan agar gangguan iklim tidak berkembang menjadi persoalan pasokan dan kenaikan harga di daerah.

Dengan cadangan yang memadai dan koordinasi lintas sektor, pemerintah diharapkan mampu menjaga kesinambungan pasokan beras nasional. Antisipasi El Nino sejak dini menjadi kunci untuk mempertahankan ketahanan pangan, melindungi daya beli masyarakat, dan mendukung keberlanjutan swasembada pangan Indonesia