Pemerintah Jaga Momentum Ekonomi usai Keyakinan Konsumen Membaik

Oleh : Devika Ay

Pemerintah terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional setelah tingkat keyakinan konsumen kembali membaik pada Agustus 2026. Perbaikan kepercayaan masyarakat menjadi sinyal positif karena konsumsi rumah tangga merupakan salah satu penggerak utama perekonomian Indonesia. Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Agustus 2026 meningkat dibandingkan Juli 2026. Kondisi tersebut menunjukkan masyarakat semakin optimistis terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun prospek ke depan, meskipun ketidakpastian ekonomi global masih menjadi tantangan.

Membaiknya keyakinan konsumen menjadi modal penting bagi pemerintah untuk mempertahankan aktivitas ekonomi domestik. Ketika masyarakat memiliki pandangan yang lebih positif terhadap kondisi ekonomi, kecenderungan untuk berbelanja dan melakukan aktivitas ekonomi juga dapat meningkat. Perkembangan ini sejalan dengan kinerja perekonomian Indonesia yang tetap tumbuh kuat pada triwulan II 2026 sebesar 5,29 persen secara tahunan.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan bahwa tren positif keyakinan konsumen pada Agustus 2026 tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang tetap berada di zona optimis pada level 118,5. Angka tersebut meningkat dibandingkan Juli 2026 yang tercatat sebesar 116,8. Penguatan optimisme konsumen tersebut didorong oleh peningkatan dua komponen utama pembentuk IKK, yakni Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK).

Pada Agustus 2026, IKE tercatat sebesar 109,4, meningkat dari 107,9 pada bulan sebelumnya dan tetap berada di zona optimis. Sementara itu, IEK mencapai level 127,6, yang menunjukkan bahwa masyarakat tetap memiliki ekspektasi positif terhadap kondisi perekonomian ke depan. Perbaikan persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini sekaligus kuatnya ekspektasi konsumen menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan aktivitas konsumsi dan permintaan domestik. Optimisme tersebut perlu terus dijaga agar dapat diterjemahkan menjadi peningkatan konsumsi dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Dari sisi konsumsi, pemerintah memiliki kepentingan besar untuk memastikan perbaikan keyakinan masyarakat dapat berlanjut menjadi aktivitas ekonomi yang nyata. Berbagai kebijakan seperti perlindungan sosial, subsidi, pemberian gaji ke-13, pengendalian inflasi, serta pelaksanaan program prioritas pemerintah diarahkan untuk menjaga kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Langkah tersebut penting karena konsumsi rumah tangga bukan hanya berkaitan dengan kegiatan belanja, tetapi juga berhubungan langsung dengan aktivitas produksi, perdagangan, transportasi, jasa, hingga penciptaan lapangan kerja. Dengan daya beli yang terjaga, perputaran ekonomi di berbagai daerah diharapkan semakin kuat.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, sebelumnya menyampaikan bahwa daya beli masyarakat yang masih solid menjadi salah satu faktor penting yang menopang pertumbuhan ekonomi. Selain konsumsi, investasi dan stimulus pemerintah juga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi triwulan II 2026. Pemerintah perlu menjaga agar kondisi tersebut tidak hanya bersifat sementara, tetapi dapat menjadi tren yang berkelanjutan. Karena itu, peningkatan aktivitas ekonomi perlu diikuti dengan penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, serta penguatan sektor usaha yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Penguatan konsumsi juga perlu diikuti dengan kebijakan yang mampu menjaga stabilitas harga. Masyarakat akan lebih percaya diri membelanjakan pendapatannya apabila harga kebutuhan pokok tetap terkendali dan pasokan barang tersedia dengan baik. Dalam kondisi seperti ini, sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, Bank Indonesia, dunia usaha, dan pelaku distribusi menjadi penting. Bank Indonesia sendiri menilai permintaan domestik masih menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ke depan, kebijakan moneter, fiskal, dan sektor riil perlu terus diselaraskan agar stabilitas tetap terjaga sekaligus memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menilai kualitas pertumbuhan ekonomi menjadi perhatian penting pemerintah. Menurutnya, pertumbuhan yang baik adalah pertumbuhan yang mampu menciptakan lapangan kerja dan menurunkan kemiskinan. Perkembangan ekonomi hingga semester I 2026 menunjukkan fondasi tersebut mulai terlihat, dengan jumlah penduduk bekerja pada Mei 2026 mencapai 148,19 juta orang dan tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,65 persen. Tingkat kemiskinan pada Maret 2026 juga turun menjadi 8,07 persen. Pemerintah karena itu perlu memastikan momentum pertumbuhan terus diterjemahkan menjadi peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat luas.

Membaiknya keyakinan konsumen pada Agustus 2026 harus dipandang sebagai peluang sekaligus pengingat bagi upaya pemerintah dalam menjaga kepercayaan masyarakat. Pemerintah tidak hanya mempertahankan angka pertumbuhan, tetapi juga memastikan pertumbuhan tersebut terasa dalam kehidupan sehari-hari melalui harga yang stabil, kesempatan kerja yang semakin luas, serta investasi yang produktif. Dengan konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, investasi yang berkembang, serta dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang terkoordinasi, momentum ekonomi nasional berpeluang terus terjaga. Tantangan global tetap perlu diantisipasi, tetapi optimisme konsumen yang kembali menguat memberikan fondasi positif bagi Indonesia untuk melanjutkan pertumbuhan ekonomi secara stabil dan inklusif. Dengan kepercayaan masyarakat yang selalu terjaga, maka akan menjadi modal penting untuk memperkuat konsumsi sekaligus kesinambungan pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

)* Penulis merupakan Pengamat Kebijakan Sosial