Resiliensi Media, dan Jalan Bertahap Memperkuat Pertahanan Siber
Resiliensi Media, dan Jalan Bertahap Memperkuat Pertahanan Siber
Oleh: Sri Seruni Prabasmoro
Kehadiran kecerdasan buatan (AI) telah membuka peluang besar bagi peningkatan produktivitas di berbagai sektor, termasuk media. Namun pada saat yang sama, kehadirannya juga menghadirkan tantangan baru berupa penyebaran disinformasi, manipulasi konten, hingga serangan siber yang semakin kompleks.
Dalam situasi tersebut, makna penguatan pertahanan siber perlu diperluas, tidak semata sebagai pembangunan infrastruktur teknologi saja. Ketahanan digital justru harus dimulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan literasi informasi, dan kemampuan masyarakat untuk menggunakan teknologi secara kritis, produktif, dan bertanggung jawab.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat resiliensi media nasional melalui transformasi program literasi digital yang kini lebih berorientasi pada peningkatan kecakapan masyarakat dalam memanfaatkan AI. Menurutnya, pendekatan literasi yang selama hampir satu dekade dijalankan perlu diperbarui agar selaras dengan perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
Ia menjelaskan bahwa fokus literasi digital saat ini bergeser dari sekadar pengenalan ruang digital menuju peningkatan keterampilan yang lebih kontekstual. Masyarakat didorong memiliki kemampuan mengenali hoaks, disinformasi, misinformasi, serta berbagai bentuk manipulasi konten yang semakin sulit dibedakan akibat kemajuan teknologi generatif.
Resiliensi media tidak hanya ditentukan oleh kecepatan menyampaikan informasi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga akurasi, kredibilitas, dan kepercayaan publik. Ketika ruang digital dipenuhi informasi yang diproduksi secara otomatis, kualitas verifikasi menjadi semakin penting.
Karena itu, penguatan literasi digital perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi ketahanan nasional. Masyarakat yang memiliki kemampuan berpikir kritis akan lebih sulit dipengaruhi oleh informasi yang menyesatkan maupun berbagai bentuk rekayasa digital.
Di sisi lain, perkembangan AI juga menghadirkan peluang besar bagi peningkatan produktivitas media dan dunia kerja. Teknologi ini memungkinkan proses produksi informasi berlangsung lebih cepat, efisien, dan mampu menjangkau masyarakat dalam skala yang lebih luas.
President Director HP Indonesia, Juliana Cen, menilai bahwa AI kini telah menjadi bagian penting dalam dunia kerja modern. Menurutnya, penerapan AI yang aman dan bertanggung jawab mampu meningkatkan produktivitas sekaligus membantu organisasi mempersiapkan sumber daya manusia menghadapi transformasi digital yang terus berkembang.
Ia memandang bahwa AI tidak lagi sekadar menjadi visi jangka panjang, melainkan telah menjadi kebutuhan nyata bagi berbagai institusi. Oleh karena itu, adopsi teknologi harus dilakukan secara praktis dengan tetap memperhatikan aspek keamanan, perlindungan data, dan etika penggunaannya. Peningkatan literasi AI harus berjalan seiring dengan meningkatnya kesadaran terhadap keamanan siber. Kemampuan menggunakan teknologi tanpa memahami risiko digital justru dapat membuka ruang munculnya berbagai ancaman baru.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital membutuhkan keseimbangan antara inovasi dan perlindungan. Semakin tinggi tingkat pemanfaatan teknologi, semakin besar pula kebutuhan membangun sistem keamanan yang mampu melindungi pengguna.
Pertahanan siber tidak hanya dibangun melalui perangkat lunak maupun sistem keamanan jaringan. Faktor manusia tetap menjadi lapisan pertahanan pertama dalam menghadapi berbagai ancaman digital, terutama ketika serangan memanfaatkan rekayasa sosial dan manipulasi informasi.
Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, industri teknologi, media, dan dunia pendidikan menjadi semakin penting. Setiap pihak memiliki peran berbeda dalam membangun ekosistem digital yang aman sekaligus mendorong pemanfaatan AI secara produktif.
Bagi media, tantangan tersebut semakin besar karena mereka berada di garis depan dalam menjaga kualitas informasi publik. Kecepatan tidak lagi cukup menjadi ukuran keberhasilan media apabila tidak diiringi dengan akurasi, independensi, dan kepatuhan terhadap etika jurnalistik.
Praktisi Media Anggi Oktarinda menekankan bahwa etika jurnalistik harus tetap menjadi fondasi utama di tengah perkembangan AI. Penggunaan teknologi tidak boleh mengurangi tanggung jawab media dalam melakukan verifikasi, menjaga akurasi, serta menghadirkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
Ia menilai bahwa AI semestinya diposisikan sebagai alat bantu yang meningkatkan efisiensi kerja, bukan sebagai pengganti sepenuhnya proses editorial. Peran jurnalis dalam melakukan pengecekan fakta, memahami konteks, dan menjaga independensi tetap menjadi unsur yang tidak tergantikan.
Dengan demikian, resiliensi media bukan hanya soal kemampuan mengadopsi teknologi baru, tetapi juga perlu dibangun melalui perpaduan antara inovasi digital, profesionalisme jurnalistik, serta komitmen menjaga kepercayaan masyarakat.
Di tengah perkembangan teknologi yang bergerak semakin cepat, penguatan pertahanan siber perlu dilakukan secara bertahap dan menyeluruh. Investasi pada literasi digital, peningkatan kompetensi AI, dan penguatan etika informasi menjadi fondasi yang sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur teknologi.
Di samping itu, ketika pemerintah, industri, media, akademisi, dan masyarakat mampu membangun budaya digital yang kritis, adaptif, dan bertanggung jawab, maka resiliensi media akan semakin kuat dan pertahanan siber nasional dapat berkembang secara berkelanjutan di tengah era transformasi teknologi.
)* Dosen Pascasarjana Ilmu Komunikasi